Amesoeurs - Amesoeurs (2009)
Album cover
--Bandcamp--
"Si je t'appelle. Me rejoindras-tu?"
("If I call you. Would you join me?")
Amesoeurs - Video Girl
---
18 Februari 2018. Hari Minggu yang biasa-biasa saja. Enggak ada kegiatan apa-apa. Well, yeah, saya juga lagi malas keluar rumah, sih.
Hm, cukup, lah, basa-basinya, enggak ada topik yang menarik pada hari ini. Lebih baik kita langsung membicarakan salah satu album terbaik (sekaligus 'aneh') yang pernah saya dengarkan saja.
Amesoeurs - Amesoeurs, or maybe I should say: "Self-titled." Seperti apa yang sudah saya katakan sebelumnya: 'aneh'. In a good way, of course... Kenapa? Karena di album ini secara garis besar mereka menggabungkan dua genre yang saling bertolak belakang. Ya, benar sekali, black metal dan post-punk.
"Post-punk, ya?" Oh, tunggu, tunggu, jangan langsung berharap bakalan ada lagu yang bernada ceria di sini. Album ini ibarat perkawinan antara Joy Division dengan Burzum. Yang satunya depresif, yang satunya doyan mengamuk. Ya, semakin jadi, deh.
Ada beberapa track favorit saya yang bakalan saya komentari kali ini, yaitu: Gas in Veins, Les Ruches Malades, Heurt, Faux Semblants, I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX IX XIX IV V I IV*, Video Girl, dan Amesoeurs.
*Panjang banget astaga.
Album ini diawali oleh track yang berjudul Gas in Veins. Sebuah track instrumental yang cocok untuk disebut "The calm before the storm" dari album ini. Dengan alunan ambient dan gitar berdistorsi yang bernada muram, track ini berhasil membuat saya bertanya tentang bagaimana masa depan dunia ini. Yes, very dystopian.
Di track kedua, Les Ruches Malades, Audrey Sylvain memperkenalkan suaranya yang terdengar 'innocent', namun 'dead inside,' juga terdengar manis, namun dingin. Dibalut dengan permainan gitar berdistorsi yang bernada suram, track ini terdengar seperti ceracau manusia modern yang mencoba mencari jalan keluar dari jahatnya lingkaran setan yang memutarinya setiap hari, namun dia tetap terjebak di dalamnya.
Track selanjutnya adalah Heurt. Diawali dengan ambient/noise yang terdengar seperti orang mengamuk sambil melempari barang ke sana-sini dan dilanjutkan dengan pukulan drum dengan gaya blast-beat sembari diiringi permainan gitar dari Neige yang atmospheric dan gelap. Di track ini pula Audrey mulai menghilangkan sisi 'innocent' dan manis dalam suaranya. Ditumpuk dengan efek yang terdengar seperti radio static, sekarang yang terdengar adalah suara Audrey yang geram dan penuh amarah. Istighfar, Mbak, marah-marah itu enggak baik.
Nah, ini nih, track the best of the best dari album ini. Ya, betul sekali, Faux Semblants. Diawali dengan permainan bass dari Fursy Teyssier dan arpeggio dari suara clean guitar milik Neige yang terdengar sangat sedap untuk diajak berdansa resah, track ini seolah menggambarkan keadaan seseorang yang sudah pasrah dengan dunia yang dystopian. Influence black metal di lagu ini sangatlah minim. Namun, entah bagaimana, mereka berhasil menciptakan atmosfer yang depresif hanya dengan mengandalkan iringan vokal Audrey yang terdengar lembut, namun dingin.
Hm, untuk track kali ini, yaitu I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX IX XIX IV V I IV, atau Amesoeurs is Dead, saya tidak akan banyak mengomentarinya. Sebuah interlude track yang berisi dentingan piano berselimut efek reverb yang kental, track ini berhasil menciptakan atmosfer yang sangat, sangat depresif dibandingkan dengan track lainnya. Kalau boleh mengusulkan lagu untuk penutup salah satu episode Black Mirror, sepertinya saya akan mengajukan lagu ini kepada Charlie Brooker. Simply
Selanjutnya ada Video Girl. Sebuah track yang menurut saya memunyai aura bittersweet di dalamnya. Dengan kombinasi antara permainan gitar yang dinamis, namun tidak terlalu agresif dan ketukan drum yang terdengar a la musik-musik post-punk, track ini berhasil menjadi track paling 'lembut' di album ini. Walaupun begitu, track ini masih terdengar 'gelap' akibat dari vokal Audrey yang terdengar 'pasrah'.
Track terakhir yang akan saya bahas adalah Amesoeurs. Diiringi oleh ketukan drum hi-hat yang konstan a la musik-musik dari Joy Division dan petikan arpeggio dari gitar milik Neige yang repetitif in a good way, track ini menjadi track yang lebih 'enak' untuk diajak berdansa resah dibandingkan Faux Semblants. Selain itu, vokal Audrey terdengar lebih ekspresif di track ini, seakan-akan emosinya sudah meluap-luap dan dia tak bisa menahannya lagi. Berita baiknya yaitu pada pertengahan lagu kalian akan menemukan permainan gitar yang lebih dinamis sembari diiringi distorsi yang 'menyayat telinga.'
Jadi, kesimpulannya adalah: MASTERPIECE! Perkawinan antara dua genre yang tidak saling mengenal, yaitu black metal dan post-punk yang pada akhirnya melahirkan sebuah proyek asyik bernama Amesoeurs ini terdengar sangat 'segar', like you never heard anything like this before. Sayangnya, saya kurang begitu menyukai scream dari Neige di album ini. Entah kenapa, there's something 'off' with him di album ini. Beda dengan saat dia melakukan scream di Alcest. Tetapi hal itu bukanlah halangan untuk menikmati musik-musik dari Amesoeurs. Totally recommended!
Sekian.
Track list:
1. Gas in Veins
2. Les Ruches Malades
3. Heurt
4. Recueillement
5. Faux Semblants
6. I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX - IX XIX - IV V I IV
7. Trouble (Éveils Infâmes)
8. Video Girl
9. La Reine Trayeuse
10. Amesoeurs
11. Au Crepuscule de nos Reves
---R.I.P. Amesoeurs: 2004–2009
"I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX. IX XIX. IV V I IV." - "Amesoeurs. is. Dead."

Comments
Post a Comment