Deafheaven - Sunbather (2013)
--Bandcamp--
17 Maret 2018. Deafheaven. Salah satu band kontroversial yang berhasil membikin puritan black metal mencak-mencak sampai 666 keturunan. Bagaimana tidak? Dengan segala publikasi di media-media musik mainstream dan sempat muncul di presentasi iPhone 5c, band ini menjadi band yang darahnya halal untuk ditumpahkan karena tidak menyandang akreditasi kvlt serta membuat malu sekte pemuja genre black metal.
Keadaan berbalik 180 derajat dengan media-media musik mainstream. Mereka memuji habis-habisan album ini karena mereka berani bereksperimen secara ekstrem. Dengan menggabungkan unsur post-rock, shoegaze, dan black metal, album ini berhasil menyabet gelar Best New Music dari situs Pitchfork. Selain Pitchfork, mereka juga mendapatkan nilai yang nyaris sempurna, yaitu A- dari situs Consequence of Sound.
Oke, cukup basa-basinya. Kali ini saya akan membahas lima tracks favorit saya di album ini, yaitu: Dream House, Irresistible, Sunbather, Vertigo, dan The Pecan Tree. Yuk, langsung saja.
Album ini dibuka oleh track yang berjudul Dream House. Track berdurasi 9 menit ini adalah pembuka album paling emosional yang pernah saya dengar. Komposisinya terdengar sangat pas, baik dari struktur lagu, pemilihan chord, dan aransemen antara vokal dengan instrumen-instrumennya. Dengan kombinasi antara permainan gitar yang sarat efek distorsi dan reverb, drumming blast beat yang hebat, serta screaming bernada tinggi dari George Clarke, track ini benar-benar menjadi sebuah track pembuka yang atmospheric sekaligus, saya ulangi lagi, emosional.
Track selanjutnya adalah Irresistible. Sebuah interlude track yang bisa juga dibilang sebagai sekuel dari track sebelumnya. Setelah Dream House selesai pada menit ke-9:15, track instrumental ini langsung datang menyambut dengan kehangatan permainan gitar yang berlapis-lapis dan dentingan piano yang pelan namun terdengar melankolis. 'The calm before the storm'.Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan track kedua dari album ini.
Seusai jeda selama kurang lebih 28 detik, track ketiga pun akhirnya muncul. Iya, betul sekali, the magnum opus: Sunbather. Sebuah track yang atmospheric, namun frontal dan agresif. Bagaimana tidak? Serangan chord-chord gitar dari Kerry McCoy dan pukulan drum yang powerful dari Daniel Tracy sudah terasa sejak awal lagu ini dimulai, seakan-akan mereka memang merealisasikan 'the calm before the storm' yang sebelumnya telah saya sebutkan. Namun tenang, track ini berstruktur 'loud-quiet-loud', jadi masih memberikan kalian sedikit waktu untuk 'beristirahat' dari ingar-bingar yang dilakukan oleh George Clarke dan kawan-kawannya.
Selanjutnya yaitu Vertigo. Track kelima dari album ini diawali dengan intro yang bertempo lambat dan terdengar sangat misterius lalu dilanjutkan dengan permainan teknik 'glide guitar' beserta drumming yang mulai serius pada menit ke-3:30. Pada menit ke-4:30, muncul permainan solo guitar yang terdengar seperti solo pada lagu-lagu progressive rock. Bagian inti lagu ini terdapat pada menit ke-5:01 yang ditandai dengan munculnya screaming mencak-mencak dari George Clarke. Tempo lagu ini melambat lagi dari menit ke-10:30 hingga menit ke-11:49 seolah-olah George butuh istirahat untuk mengungkapkan sisa-sisa ceracaunya yang akan dimuntahkan pada menit-menit terakhir track ini.
Track terakhir yaitu The Pecan Tree. Sebuah track yang lebih frontal daripada Sunbather, namun masih dibalut dengan atmosfer yang sangat emosional seperti pada track Dream House. Sejak awal lagu dimulai, blast beat dari lini drum, permainan gitar yang sarat distorsi dan reverb, serta screaming dari George Clarke sudah menguasai lagu ini. 'Moment of solitude' baru dimulai pada menit ke-4:18 yang ditandai dengan melambatnya tempo lagu, seolah-olah menggambarkan seseorang yang sedang mengintrospeksi dirinya sendiri akibat telah menembakkan segala sumpah serapahnya ke orang-orang yang ia temui. Ledakan emosi mulai terdengar lagi pada menit ke-7:54, seperti memberikan statement bahwa orang itu sudah tidak bisa mencintai orang lain dan tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Look at that pink smartphone! Woah, pvritan black metal pasti kesvrvpan melihatnya.
Keadaan berbalik 180 derajat dengan media-media musik mainstream. Mereka memuji habis-habisan album ini karena mereka berani bereksperimen secara ekstrem. Dengan menggabungkan unsur post-rock, shoegaze, dan black metal, album ini berhasil menyabet gelar Best New Music dari situs Pitchfork. Selain Pitchfork, mereka juga mendapatkan nilai yang nyaris sempurna, yaitu A- dari situs Consequence of Sound.
Oke, cukup basa-basinya. Kali ini saya akan membahas lima tracks favorit saya di album ini, yaitu: Dream House, Irresistible, Sunbather, Vertigo, dan The Pecan Tree. Yuk, langsung saja.
Album ini dibuka oleh track yang berjudul Dream House. Track berdurasi 9 menit ini adalah pembuka album paling emosional yang pernah saya dengar. Komposisinya terdengar sangat pas, baik dari struktur lagu, pemilihan chord, dan aransemen antara vokal dengan instrumen-instrumennya. Dengan kombinasi antara permainan gitar yang sarat efek distorsi dan reverb, drumming blast beat yang hebat, serta screaming bernada tinggi dari George Clarke, track ini benar-benar menjadi sebuah track pembuka yang atmospheric sekaligus, saya ulangi lagi, emosional.
Track selanjutnya adalah Irresistible. Sebuah interlude track yang bisa juga dibilang sebagai sekuel dari track sebelumnya. Setelah Dream House selesai pada menit ke-9:15, track instrumental ini langsung datang menyambut dengan kehangatan permainan gitar yang berlapis-lapis dan dentingan piano yang pelan namun terdengar melankolis. 'The calm before the storm'.Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan track kedua dari album ini.
Seusai jeda selama kurang lebih 28 detik, track ketiga pun akhirnya muncul. Iya, betul sekali, the magnum opus: Sunbather. Sebuah track yang atmospheric, namun frontal dan agresif. Bagaimana tidak? Serangan chord-chord gitar dari Kerry McCoy dan pukulan drum yang powerful dari Daniel Tracy sudah terasa sejak awal lagu ini dimulai, seakan-akan mereka memang merealisasikan 'the calm before the storm' yang sebelumnya telah saya sebutkan. Namun tenang, track ini berstruktur 'loud-quiet-loud', jadi masih memberikan kalian sedikit waktu untuk 'beristirahat' dari ingar-bingar yang dilakukan oleh George Clarke dan kawan-kawannya.
Selanjutnya yaitu Vertigo. Track kelima dari album ini diawali dengan intro yang bertempo lambat dan terdengar sangat misterius lalu dilanjutkan dengan permainan teknik 'glide guitar' beserta drumming yang mulai serius pada menit ke-3:30. Pada menit ke-4:30, muncul permainan solo guitar yang terdengar seperti solo pada lagu-lagu progressive rock. Bagian inti lagu ini terdapat pada menit ke-5:01 yang ditandai dengan munculnya screaming mencak-mencak dari George Clarke. Tempo lagu ini melambat lagi dari menit ke-10:30 hingga menit ke-11:49 seolah-olah George butuh istirahat untuk mengungkapkan sisa-sisa ceracaunya yang akan dimuntahkan pada menit-menit terakhir track ini.
Track terakhir yaitu The Pecan Tree. Sebuah track yang lebih frontal daripada Sunbather, namun masih dibalut dengan atmosfer yang sangat emosional seperti pada track Dream House. Sejak awal lagu dimulai, blast beat dari lini drum, permainan gitar yang sarat distorsi dan reverb, serta screaming dari George Clarke sudah menguasai lagu ini. 'Moment of solitude' baru dimulai pada menit ke-4:18 yang ditandai dengan melambatnya tempo lagu, seolah-olah menggambarkan seseorang yang sedang mengintrospeksi dirinya sendiri akibat telah menembakkan segala sumpah serapahnya ke orang-orang yang ia temui. Ledakan emosi mulai terdengar lagi pada menit ke-7:54, seperti memberikan statement bahwa orang itu sudah tidak bisa mencintai orang lain dan tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
"I am my father’s son
I am no one
I cannot love
It’s in my blood"
I am no one
I cannot love
It’s in my blood"
Ya, telah sampailah kita pada penghujung acara. Jadi, menurut saya, album ini...
...CADAS! Ramuan antara shoegaze, post-rock, black metal, dan lirik yang personal berhasil membuat album ini menjadi salah satu album tersegar sekaligus emosional yang pernah saya dengarkan. Deafheaven memang inovatif, enggak tahu juga bagaimana mereka melewati proses creative thinking dalam pembuatan album ini, pokoknya inovatif, deh! Mereka telah berhasil mendobrak batas-batas dalam bermusik, khususnya pada industri per-black metal-an. Oleh karena itu, tidaklah salah apabila banyak situs yang memberikan nilai positif kepada album ini, namun tidak salah pula kalau banyak puritan black metal yang 'mengafirkan' mereka, memangnya, siapa sih bocah-bocah itu, kok berani sekali bereksperimen secara liberal dengan genre yang sakral ini?
That's all. Thank you.
Track list:
1. Dream House
2. Irresistible
3. Sunbather
4. Please Remember
5. Vertigo
6. Windows
7. The Pecan Tree
---
2018. Can't wait for the new album!


Comments
Post a Comment